|
Lantaran sering menimbulkan kemacetan, Presiden Yudhoyono didesak untuk tinggal di Istana Negara. AKIBAT kerap mondar-mandir Istana – Cikeas, Presiden Yudhoyono akhirnya diprotes warga pengguna jalan yang searah dengan rumah pribadi SBY. Protes ini mengemuka lantaran, surat pembaca salahsatu warga Cibubur Hendra NS yang sehari-hari menggunakan jalan tol tersebut. Tidak hanya kalangan masayarakat pengguna jalan saja, sejumlah politisi dan pengamat kebijakan publikpun angkat suara menyikapi ulah Presiden yang iringiringannya pernah menimbulkan kecelakaan hingga menewaskan 6 orang itu. Dengan tinggal di Istana Negara, SBY tidak perlu lagi harus menempuh jalur Cikeas, Bogor, Istana Negara, Jakarta Pusat, yang berjarak sekitar 30 kilometer. Konvoi rombongan presiden di jalur itu membuat ibu kota semakin macet.
Menurut pengamat kebijakan publik Andrinof Chaniago, fasilitas pengawalan dan semacamnya yang diterima pejabat, termasuk presiden, selama ini makin menunjukkan jurang kesenjangan pelayanan negara terhadap pejabat dan masyarakat secara umum di Indonesia. “Karena itu, memang sebaiknya (presiden) lebih banyak tinggal di Istana Negara saja,” katanya di Jakarta. Menurut Andrinof, diakui atau tidak, iringiringan mobil rombongan presiden menimbulkan kemacetan luar biasa. “Nah, kalau tiap hari, masyarakat tentu yang jadi korban,” tambahnya. Senada dengan Andrinof, pengamat kebijakan public Agus Pambagio, mengatakan, lalu lintas yang dilalui SBY saat ingin pulang ke Cikeas memang dikenal sebagai jalur neraka alias langganan macet. “Memang sebaiknya tidak mondarmandir karena itu bias mengganggu saat lalu lintas padat,” kata Agus. Agus mengatakan, sebagai RI 1, SBY memang berhak mendapatkan fasilitas VVIP. Namun sebagai pemimpin yang baik, SBY harus memiliki tenggang rasa terhadap rakyatnya. “Jalur Jagorawi memang padat jadi memang SBY harus menyesuaikan,” kata Agus. Sebaiknya, Agus menyarankan, SBY memang tinggal di kompleks Istana Kepresidenan yang sudah disiapkan untuk Presiden. Dengan begitu, rakyat akan merasakan bahwa SBY adalah pemimpin yang memahami kepentingan rakyatnya. “Nggak usah sering-sering ditengok rumahnya di Cikeas, nggak bakal hilang kan?,” candanya. Pandangan itu didukung putri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid. Dia berharap, SBY mau mengikuti langkah Gus Dur yang memilih lebih banyak tinggal di Istana Negara. Meski, lanjut dia, kondisi Istana tidak terlalu nyaman, kepentingan masyarakat banyak tidak akan terganggu. “Istana sangat tidak nyaman untuk ditinggali, penuh nyamuk, dingin karena AC-nya sentral. Seram suasananya. Tapi, Gus Dur memutuskan tinggal di sana untuk menghemat uang negara,” ujar Yenny dalam akun Twitter-nya Jumat malam (16/7). Bahkan, sebenarnya SBY sudah ingkar dengan janjinya yang mengatakan akan tinggal di istana, hal itu diungkapkan oleh dirinya beberapa saat setelah dilantik menjadi presiden 2004-2009. Pengakuan SBY ini disampaikan saat ditanya sejumlah warga jamaah salat Jumat di masjid Al Istiqomah, Cikeas, Bogor, Jumat (24/9/2004). Sambil berebut salaman seusai salat Jumat, ada warga yang bertanya kepada SBY mengenai tempat tinggalnya setelah dilantik menjadi presiden. “Saya akan tinggal di Istana. Pertimbangannya demi efisiensi. Apabila tetap tinggal di sini (Cikeas), negara akan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk pengamanan lingkungan sekitar rumah dan biaya perjalanan dari Cikeas ke istana pulang pergi,” kata SBY. Sementara kalau di di istana, lanjut SBY, selain dari sisi kemanan dan protokoler, semua fasilitas juga telah tersedia lengkap. Para tamu juga akan lebih gampang untuk bertemu. “Yang lebih utama, tidak akan bikin macet jalan, kalau saya lewat,” ungkap SBY serius. Mendapat jawaban SBY, salah seorang warga menimpali, “Wah susah dong kitakita bisa ketemu?” SBY pun menjanjikan akan mengaturnya agar bisa bertemu langsung dengan rakyat selama sebulan sekali. “Ya nanti kita atur, bagaimana caranya sebulan sekali kita bertemu langsung dengan rakyat,” ungkapnya. Dari sejumlah presiden Indonesia sebelumnya, sebagian ada yang memilih tinggal di istana dan sebagian lagi memilih tinggal di luar istana. Soekarno dan Gus Dur memilih tinggal di istana. Sedangkan Soeharto dan Megawati memilih tinggal luar istana. Di beberapa negara lain, kepala negara bahkan menggunakan sarana transportasi umum saat menuju ke kantor. Di antaranya, Ratu Elizabeth, kepala negara Inggris, yang sering menggunakan kereta api. Atau, Presiden Iran Ahmadinejad yang seminggu sekali menggunakan bus saat pergi ke kantor. Menanggapi keluhan-keluhan tersebut, Jubir Presiden Julian Aldrin Pasha menyatakan, SBY sebenarnya sudah melakukan sejumlah upaya meminimalkan kemacetan selama ini. Di antaranya, berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat larut malam. Tapi, lanjut dia, kalau harus meniru Ratu Elizabeth atau Ahmdinejad, hal itu hampir tidak mungkin. “Kita perlu melihat situasi keamanan, apakah bias menjamin 100 persen. Kondisi di London tidak sama dengan Jakarta, begitu juga di Teheran yang lebih kondusif. Di Jakarta sangat kompleksitas dan ancaman selalu ada,” paparnya. Apakah SBY akan mengurangi intensitas pulang ke Cikeas? Julian mengatakan, itu bukan solusi mengurangi kemacetan. “Itu (mengurangi pulang) bukan titik utama, tetapi bagaimana agar tidak terjadi kemacetan. Soalnya, rute yang dilalui sudah sejak dulu macet,” katanya. Selain lebih sering tinggal di Istana Negara, sebenarnya ada sejumlah terobosan untuk menghindari kemacetan iring-iringan presiden dari Cikeas ke Istana. Di antaranya, menggunakan helikopter. “Hal itu sudah didengar. Pak Presiden akan mempertimbangkan karena beliau sungguh-sungguh memperhatikan keluhan masyarakat,” tegasnya. ■ Dimas Ryandi
 |