|
 Arbi Sanit ADA target besar yang tengah dibidik PKS sehingga berani meninggalkan khittah-nya sebagai partai eksklusif. Namun, di satu sisi, terbaca juga adanya sikap panik yang menghinggapi elite-elite parpol itu sehingga mengambil jalan pintas. Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menduga, pergeseran PKS menjadi partai terbuka hanya strategi politik untuk merebut posisi RI-1 atau RI-2 dengan meminta dukungan Negeri Paman Sam. Sebab, menurutnya, PKS tidak akan pernah bisa mendapuk posisi presiden atau wapres jika tanpa restu Amerika dan masih tetap berideologi Islam yang eksklusif. “Mungkin PKS belajar dari Pemilu 2009, di mana Demokrat tidak bisa menggandeng PKS untuk menjadi wapres mendampingi SBY,” ujar Arbi Sanit kepada Indonesia Monitor, Sabtu (17/7).
Arbi menduga, Amerika tidak rela bila RI-2 jatuh kepada kader partai Islam. Sebab itu, untuk membuktikannya PKS pun mengupayakan secara serius melepaskan citra sebagai partai Islam yang beraliran kanan. “Untuk membuktikan hal itu, PKS mencoba menjalin dialog dengan Amerika. Ini merupakan strategi bagaimana PKS bisa duduk sebagai calon presiden atau cawapres dalam Pemilu 2014 nanti,” terang Arbi. Karena itu, ia menyangsikan PKS betul-betul mau bertransformasi menjadi partai terbuka. “Itu (partai terbuka) sepertinya omong kosong saja. PKS kan partai yang pura pura terbuka. Dia sendiri masih tertutup, basis sosialnya tertutup, elitenya tertutup. Lalu, bagaimana bisa menjadi partai terbuka,” tanya Arbi. Menurutnya, karakter dan struktur yang masih kaku di PKS menjadi kendala. Hal itu karena identitas PKS yang masih eksklusif cukup kuat sehingga pernyataan menjadi partai terbuka itu sebatas menjadi retorika belaka. “Pernyataan itu berhenti di tingkat wacana saja, karena itu hanya manuver sesaat PKS untuk meredam kemerosotan suara partai-partai berbasis Islam. Dan juga hanya untuk mengincar posisi presiden nanti. Namun itu tidak mudah,” imbuhnya. Upaya PKS untuk mencitrakan diri sebagai partai terbuka, menurut Arbi, belum tentu berhasil. Trik serupa terbukti gagal saat diterapkan oleh PAN dan PKB. Ia memprediksi, manuver PKS tersebut justru bisa mengecewakan pendukung tradisionalnya. “Yang keluar bisa lebih banyak dari yang masuk nantinya,” tukasnya. Arbi juga menduga pergeseran menjadi partai terbuka itu lantaran kepanikan di tingkat elite PKS. Sikap panik tersebut diselesaikan secara pragmatis dengan mengklaim telah menjadi partai terbuka. “Ada semacam kepanikan di tingkat para elite PKS. Mungkin karena PKS sudah telanjur terkenal sebagai partai yang sukses, dan banyak orang menilainya sebagai partai masa depan, tetapi pemilihnya tidak bertambah signifikan. Saya kira mereka khawatir pemilihnya tidak akan nambah lagi,” paparnya. ■ Moh Anshari
 |