|
AWAS macet, si Komo lewat. Lelucon ini kerap terdengar di kalangan pengguna kendaraan bermotor, tahun 2000-an silam sebagai ungkapan rasa kesal karena terjebak kemacetan arus lalu-lintas gara-gara pejabat lewat . Kini lelucon tersebut sudah lama tidak terdengar. Namun, pertengahan Juli 2010, publik dikejutkan berita baru: jeritan seorang warga yang merasa kesal lantaran iringiringan kendaraan yang mengantarkan SBY ke kediaman pribadi di Cikeas dianggap sering membuat macet arus lalu-lintas. Hendra NS, warga Cibubur, lewat surat pembaca Kompas meminta Presiden SBY menetap di Istana dan tidak bolak-balik ke Cikeas. Ia juga mengkritik sikap Patwal Presiden yang dinilai arogan Tanggapan pun beragam, tentu saja ada yang pro dan kontra.
Presiden SBY, menurut juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, berterimakasih atas masukan itu. Malah, katanya, SBY langsung menginstruksikan kepada internal Paspampres untuk melakukan penyelidikan dengan cermat atas laporan tersebut. Jika terbukti melakukan perbuatan sebagaimana yang diceritakan dalam surat pembaca, sanksi tegas akan diberikan kepada aparat yang bertugas. Terlepas dari masalah itu, sejatinya sejak lama Presiden telah menyadari bahwa perjalanannya yang kerap bolak-balik Istana-Cikeas menimbulkan rasa tidak nyaman bagi warga yang dilalui. Hal itu terungkap kala SBY baru saja terpilih menjadi Presiden, tahun 2004. Dalam dialog dengan jamaah saat salad Jumat di Masjid Al Istiqomah, Cikeas, Bogor, SBY menegaskan bahwa dirinya akan tinggal di Istana. Selain untuk mencegah macet, SBY juga beralasan, tinggal di Istana karena pertimbangan efisiensi. Di Istana, semua sudah disediakan. Apakah SBY lupa ucapannya kala itu? Atau memang untuk melepas rasa jenuh tinggal terus di Istana dan kemudian ganti suasana? Jawabnya hanya SBY dan orang-orang dekatnya yang tahu. Namun dari kejadian itu, banyak pelajaran yang bisa diperoleh. Setidaknya, kembali mengingatkan SBY bahwa perjalanannya dan rombongan dari Istana-Cikeas atau sebaliknya, membuat pengendara yang dilaluinya merasa tidak nyaman. Karena itu, ke depan, perlu dipikirkan kendaraan lain untuk SBY yang cepat, aman dan tidak mengganggu warga. Para petugas Patwal Presiden juga mestinya bisa bersikap lebih sopan kepada warga. Mengawal rombongan presiden, bukan berarti bisa seenaknya membentak-bentak pengendara lain. Peristiwa itu juga menjadi pelajaran bagi pejabat lain, utamanya yang berkantor di kawasan Medan Merdeka dan kerap menggunakan pengawal untuk menerobos kemacetan. Tak jarang pengawal pejabat tersebut bersitegang, bahkan saling memaki dengan pengendara lain. Pasalnya, pengawal mobil pejabat dengan seenaknya meminta mobil-mobil menepi. Padahal kondisi saat itu macet parah dan tidak memungkinkan untuk menepi. Di sisi lain, Pemda DKI Jakarta, Departemen Perhubungan, Departemen Perdagangan, Departemen Pekerjaan Umum dan instansi terkait lainnya, sudah saatnya duduk bersama mengatasi kemacetan di Jakarta yang sudah teramat parah. Tidak lagi saling lempar tanggungjawab. Bila perlu, SBY mengeluarkan instruksi presiden yang memerintahkan instansi terkait agar bersama-sama mengatasi kemacetan. Kalau instruksi presiden sudah dikeluarkan dan masih tetap macet juga, jalan terbaik adalah memindahkan ibukota ke daerah lain. ■
 |