|
Selama lima bulan tukang ojek itu terkapar kaku di pembaringan. Kemiskinan membuatnya pasrah antara hidup dan mati. MURSIDI (45) sudah lima bulan ini tak sadarkan diri. Tukang ojek ini hanya terbaring di atas kasur. Nasib naas menimpanya pada 27 Februari lalu. Ia mengalami kecelakaan setelah motor yang dikendarainya ditabrak sesama pengendara motor di Jalan Gaplek, Pondok Cabe, Ciputat Tangerang. Istrinya, Nasriah (40) menceritakan, suaminya itu masih sempat sadarkan diri beberapa jam setelah mendapat perawatan di rumah sakit di daerah Gaplek. Namun, setelah itu Mursidi tak sadarkan diri hingga saat ini.
Tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan Mursidi. “Biaya yang dihabiskan sewaktu di RS Tangerang sekitar Rp 50 juta. Setelah itu, terpaksa kita bawa pulang karena tak mampu membiayai lagi. Yang Rp 50 juta saja itu nyabut sono nyabut sini ke saudara-saudara, nanti hitungannya di kemudian hari aja,” tutur Nasriah. Sudah dua kali, Mursidi menjalani operasi, namun tak kunjung sembuh. Operasinya di kepala dan di leher. Tempurung kepalanya masih disimpan di rumah sakit. “Dokternya minta tempurungnya supaya dipasang lagi. Tapi kan mesti keluar biaya pemasangan. Belum ada biayanya,” aku Nasriah. Kini, ia hanya bisa pasrah. Sawah dan segala macam simpanannya sudah habis dijual untuk biaya pengobatan. Keluarga asal Semarang, Jawa Tengah yang memiliki tiga anak ini tergolong keluarga tidak mampu. Ketika masih sehat, Mursidi bekerja serabutan. Sudah 14 tahun silam sejak merantau ke Jakarta, pekerjaan Mursidi tak menentu, meski kerap kali ia melakoni profesi tukang ojek. “Sehari-hari, suami saya hanya tukang ojek. Kerja serabutan juga. Kalau dipanggil untuk kerja bangunan, ya kerja bangunan. Apa aja dikerjain,” kata perempuan yang hanya lulus SD ini. Sementara, Nasriah sendiri sehari-hari bekerja sebagai petugas cleaning sevice di Masjid Fathullah UIN Jakarta. Setelah suaminya kecelakaan, Nasriah praktis menjadi tulang punggung keluarga. Padahal, ia harus menafkahi ketiga anaknya yang masih bersekolah. “Anak saya yang sulung sudah kuliah, sambil bekerja. Adiknya yang dua masih duduk di bangku SMP. Tadinya, yang kecil mau istirahat demi membantu meringankan ibu, tapi nggak saya kasih,” tuturnya. Meski hidup serba sulit, tapi Nasriah terus mendorong ketiga anaknya agar bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. “Supaya mereka jadi anak yang pintar, nggak seperti orangtuanya yang bodoh dan hanya lulusan SD,” ujarnya. Jika sudah waktunya pembayaran SPP sekolah ketiga anaknya, Nasriah harus memutar otak. Gali lubang tutup lubang menjadi solusi ketiadaan biaya. “Untuk biaya pendidikan anak-anak dulu juga mendapat bantuan dari donatur masjid. Tapi sekarang sudah nggak lagi,” ungkapnya. Di tengah kesulitannya saat ini, diakui Nasriah, belum ada uluran tangan dari pihak pemerintah, baik untuk kebutuhan pengobatan suaminya maupun untuk biaya pendidikan ketiga anaknya. Padahal, kondisi suaminya sudah sangat memprihatinkan. “Untuk makan dan minum, suami saya harus disuap lewat hidung melalui selang. sebenarnya, saya sudah pernah mengajukan bantuan ke Dinas Jasa Raharja. Tapi sudah empat bulan belum ada kelanjutannya sampai sekarang hasilnya dari sono, dapat bantuan apa nggak,” ujarnya. Nasriah mengungkapkan, pihak yang peduli untuk kesembuhan suaminya hanya datang dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), sebuah LSM yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat kurang mampu. “Sekarang terbantu dengan bantuan dari LKC. Suka diberi bantuan obat-obatan dari LKC, tapi nggak bias bantu biaya operasi. Padahal, untuk setiap periksa atau kontrol ke RS Tangerang habis Rp 800 ribu. Itu selalu pinjam,” pungkasnya. ■ Moh Anshari |