|
Sudah setor Rp 12 juta, ia hanya jadi kuli panggul pelabuhan. Sehari paling banter bawa pulang uang Rp 15 ribu. Mimpi jadi karyawan tetap. ADALAH Ari yang tengah menerima nasib buruk itu. Sekitar dua tahun lalu, ia hendak bekerja di atas kapal penyeberangan Merak-Bakauheni, sebagai kuli angkut. Ketika itu ia diminta uang pangkal sebesar Rp 12 juta oleh seseorang yang ia sebut sebagai petugas. Berhubung tidak ada pekerjaan lain dan setelah lima tahun menganggur, maka persyaratan itu ia penuhi. Remaja yang hanya lulusan SD itu akhirnya meminta kepada orangtuanya untuk menyediakan uang pelicin tersebut. Entah bagaimana cara orangtuanya yang hanya buruh tani mendapatkan uang itu, yang jelas Ari berhasil membawa uang tersebut sebagai syarat untuk bisa bekerja di pelabuhan. Setelah menyerahkan uang, ia langsung kerja.
Oleh petugas, Ari diminta untuk bekerja keras, bersikap sopan kepada semua penumpang, dan tidak boleh memaksa. Tidak hanya itu, Ari diwajibkan menyetor Rp 30 ribu setiap bulan ke pengelola angkutan. “Kerja tidak kerja, saya harus setor,” kata Ari kepada Indonesia Monitor yang menemuinya di atas kapal Kertanegara, pekan lalu. “Kalau tidak setor, bisa dipecat, kecuali segera melunasi utang yang belum disetorkan itu,” lanjutnya. Bersama kawan-kawannya sesama buruh tenteng, Ari sering berdiskusi membicarakan masa depannya. Ia juga tidak jarang membaca koran yang berceceran di atas kapal. Salah satu yang menarik perhatian Ari adalah soal program 100 hari pemerintah yang akan menertibkan pelabuhan. Khayalannya pun melambung tinggi bahwa ia bakal diangkat menjadi karyawan tetap pelabuhan. Ternyata impian itu tak pernah terwujud, sebab status dia kuli lepas. Artinya, apapun yang ia lakukan, bukan tanggungjawab pengelola angkutan milik yang merupakan BUMN itu. “Kata teman, saya tidak bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Aturannya memang begitu,” katanya polos. Lalu, ke mana larinya uang Rp 12 juta itu? Bujangan asal Bojonegara, Serang, Banten itu mengaku, dana itu merupakan uang transfer dari kuli sebelumnya yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu. “Ya, itu uang pengganti untuk mendapatkan kartu dan seragam pelabuhan,” kata anak tertua dari tiga bersaudara itu. Nasi sudah menjadi bubur. Uang sudah disetor, mau tidak mau, Ari harus mencintai pekerjaannya. Setiap hari, dengan setia ia menunggu penumpang yang meminta bantuan tenaganya untuk mengangkut barang. Dalam sehari, Ari bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 15 ribu. “Tergantung barangnya, berat atau ringan,” katanya. Salah satu hal yang membuat ia tetap betah bekerja di tempat itu adalah, tidak ada ikatan apapun dengan pengeloa. “Saya boleh masuk, boleh tidak. Sebulan tidak kerja juga tidak apaapa, yang penting setor Rp 30 ribu,” akunya. Hanya saja, ia tetap berharap pihak pengelola memperhatikan masa depannya. “Saya ingin sekali menjadi karyawan tetap,” pinta remaja 22 tahun itu. ■ Sri Widodo |