|
Sejumlah elite Partai Golkar mendeklarasikan ormas Nasional Demokrat (ND). Berpotensi menjadi sempalan Partai Beringin. ADALAH Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang tengah puya hajat mendeklarasikan Nasional Demokrat pada Senin (1/2) sore. Tak hanya mereka berdua, beberapa tokoh Golkar juga ikut menjadi deklarator, seperti Samsul Mu’arif, Siswono Yudohusodo, Poempida Hidayatullah, dan Meutya Hafid. Bahkan, tokoh dari luar Golkar dan tokoh nonpartai pun ikut terlibat. Mereka antara lain mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla, Ketua DPP PDIP Budiman Sudjatmiko, mantan Ketua DPP PKB Khofifah Indar Parawansa, pengamat politik UI Eep Saefulloh Fatah, Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan, ekonom Didik J Rachbini, dan penyanyi Franky Sahilatua.
Menurut panitia pelaksana, Bambang Hamid, deklarasi ND bertujuan untuk perubahan atas keprihatinan terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial bangsa Indonesia. “Inisiatornya Surya Paloh dan Sultan Hamengku Buwono X,” ujar Bambang, Minggu (31/1). “Jumlah totalnya ada 45 deklarator,” tambahnya. Jika dilihat dari personel yang jadi deklarator, sebagian besar adalah tokoh-tokoh oposisi yang selama ini vokal ke pemerintah SBY-Boediono. Hal itu terlihat dari masuknya Budiman dan Poempida yang tak lain adalah Presiden dan Wakil Presiden Kabinet Indonesia Muda (KIM). Selain itu, komposisi deklarator juga banyak diisi oleh tokh-tokoh Golkar yang pada Munas lalu menjadi rival Aburizal Bakrie. Hal ini memunculkan dugaan bahwa ormas ND akan berinkarnasi menjadi partai nasionalis sempalan Golkar. Namun Poempida membantah ND bakal menjadi sempalan Golkar. “Ini bukan gerakan politik,” ujar Poempida kepada Indonesia Monitor, Senin (1/2). “Kalau ada orang menilai ND pecahan Golkar, silakan saja. Tapi semangatnya sosial yang menjunjung nilai nasionalisme,” jelasnya. Menurut Poempida, adalah wajar jika tokoh-tokoh Golkar yang jadi deklarator ND mencari wadah baru untuk aktualisasi diri. Selama ini, Partai Golkar tersebut tetap memperjuangkan hal-hal yang sama sewaktu mereka masih aktif di Golkar. “Tapi tidak ada tempat di Golkar,” ujarnya. Surya Paloh, Sri Sultan, dan beberapa deklarator dari Golkar, menurut Poempida masih terdaftar sebagai kader Partai Golkar. Poempida sendiri mengaku akan tetap setia mendukung partai berlambang pohon beringin tersebut. “Kami kan tidak membuat partai, tapi ormas. Kalau hanya karena kecewa dengan Golkar, sayang sekali. Ini persinggungan bebas partai politik, dan fleksibel dari berbagai aliran,” jelasnya. Menurut salah seorang anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, Sharif Cicip Sutarjo, sah-sah saja jika ND berkembang menjadi parpol. Namun, jika menjadi partai politik, Cicip menegaskan, para tokoh Golkar yang bergabung di situ harus meninggalkan Golkar. “Tapi nanti kalau akan jadi partai, tidak boleh menjadi Golkar lagi,” ujar Sharif Cicip Sutarjo kepada wartawan, Minggu (30/1). Dikatakan Cicip, dirinya tidak bisa memperkirakan arah aliran ormas tersebut jika nantinya memang akan dibentuk menjadi partai. Tapi, menurut dia, bila dilihat dari konsep nama partai sepertinya tidak akan berbeda jauh dengan Golkar. Sebelumnya, Surya Paloh diisukan akan pindah ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Ketua Umum Hanura Wiranto bahkan sudah mengisyaratkan partainya terbuka bagi bos Media Group tersebut. “Hanura selalu terbuka, siapapun boleh masuk dan keluar,” ujar Wiranto. ■ Moh Anshari, Sri Widodo |