|
Yaman menolak berdamai dengan kelompok separatis Syiah di utara. Ketegangan dan instabilitas di Timur Tengah bakal berkepanjangan. PEMERINTAH Yaman mengatakan tawaran gencatan senjata yang diajukan separatis mestinya komitmen untuk tidak menyerang negara tetangga Arab Saudi. Pengumuman itu disampaikan setelah pejabat militer menyatakan telah terjadi pertempuran sengit antara kelompok separatis dengan pasukan pemerintah di tiga kawasan di utara negara itu yang mengakibatkan 24 orang anggota kelompok Huthi tewas. “Kami menolak inisiatif (pemimpin kelompokseparatis Abdul Malak) al-Huthi untuk menerima lima poin dari syarat pemerintah (untuk perdamaian) karena tidak melibatkan poin keenam yang meminta komitmen dari kelompok Huthi untuk tidak menyerang kawasan Arab Saudi,” kata pejabat pemerintah kepada AFP, Minggu (1/2).
Sebelumnya pemerintah Yaman telah menyiapkan lima syarat untuk mengakhiri perang. Namun mereka menambahkan syarat keenam, yakni komitmen untuk tidak menyerang negara-negara lain di Teluk. Lima syarat ini antara lain melibatkan penarikan diri kelompok separatis dari gedung-gedung pemerintah, pembukaan kembali jalanjalan di utara, pengembalian senjata yang telah disita dari pasukan keamanan, pembebasan tahanan militer dan sipil, termasuk warga Arab Saudi, serta meninggalkan pos-pos militer di pegunungan. Pejabat yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya juga menolakpermintaan kelompok Huthi untuk penghentian serangan oleh militer sebagai syaratbagi berakhirnya pertempuran. Sementara, pemimpin kelompok separatis Syiah, Sabtu (31/1), menyatakan akan menerima syarat pemerintah untuk mengakhiri perang jika serangan terhadap mereka dihentikan. Dia mengatakan kelompok separatis mau menerima syarat dalam upaya untuk menghentikan pertumpahan darah dan genosida terhadap warga sipil sekaligus mengakhiri peperangan. Pernyataan kelompok Huthi dikeluarkan sebagai puncak dari pengumuman kelompok tersebut bahwa mereka akan menarik diri dari kawasan Arab Saudi yang mereka kuasai sejak November. Arab Saudi terlibat dalam pertempuran pada November 2009 setelah Riyadh menuduh kelompok separatis menewaskan seorang penjaga perbatasan dan menguasai dua desa kecil di perbatasan. Sementara, bentrokan terus terjadi di Yaman utara dan Kementerian Pertahanan, mengklaim telah menewaskan 24 orang anggota kelompok separatis dalam sejumlah pertempuran berbeda. Para pejabat yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya mengatakan kontak senjata terjadi di tiga garis terdepan tidak jauh dari Saada, 240 kilometer utara ibukota Sanaa, saat pesawat-pesawat tempur pemerintah menyerang. Kementerian Pertahanan mengklaim, pimpinan kelompok separatis yang diidentifikasi sebagai Qaed Abu Malik, tewas bersama 20 orang pemimpin lainnya. ■ Charly Samosir
 |