|
Sudah belasan tahun mengajar, ia hanya digaji Rp 80 ribu per bulan. Usai mengajar, ia jadi tukang kuli batu demi menghidupi istri dan empat anaknya. ITULAH kenyataan hidup yang harus dipikul Sido (39), guru sebuah madrasah di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Meski sudah belasan tahun mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, gaji yang ia terima tak pernah beranjak dari angka sekitar Rp 3 ribu per hari. “Kalau hitung-hitungan gaji, saya bisa stres. Apalagi melihat kebutuhan keluarga dan anak-anak yang sekarang makin membubung tinggi. Gaji dari madrasah tentu tak cukup memenuhi kebutuhan,” tutur ayah empat orang anak itu.
Sido berkeluh-kesah lantaran banyaknya beban kebutuhan primer yang mesti ia penuhi, terutama untuk biaya sekolah keempat anaknya yang mulai beranjak dewasa. “Pernah suatu kali anak saya minta kuliah. Saya sedih dan trenyuh karena tak bisa memenuhi keinginannya. Akhirnya dia cuma bisa melanjutkan ke pendidikan pesantren,” tutur Sido. Kesejahteraan para guru madrasah di beberapa daerah memang memprihatinkan. Anehnya, hingga kini belum ada perhatian serius, baik dari pemerintah daerah setempat maupun dari pemerintah pusat untuk memperbaiki nasib mereka. Padahal, jumlah lembaga pendidikan agama yang ada di daerah Sido mencapai ratusan madrasah. Tapi, gaji minim tak membuat Sido putus asa menjalani profesi mulia itu. Gaji yang tergolong “tak manusiawi” itu justru membuatnya terus berpikir keras untuk mencari sumber penghidupan lainnya. Di tengah kesibukannya mengajar, sejak tahun 2000, Sido memutuskan untuk nyambi jadi kuli batu gunung di dekat rumahnya di Desa Jaddih, Socah, Bangkalan. Sebagai ustadz terpandang di daerahnya, Sido awalnya merasa malu dan gengsi jadi kuli batu. Bahkan, anak sulungnya pernah suatu ketika menentang agar ia tak jadi kuli. Namun, demi tuntutan hidup dan tanggung jawab keluarga, ia pendam rasa malunya. Tiap hari sehabis mengajar, Sido pergi ke gunung yang hanya berjarak dua kilometer. dari tempat tinggalnya. Ia berbaur di antara para kuli dengan berbekal linggis dan gergaji. “Hasil potongan batunya saya jual ke seorang juragan pengepul batu gunung,” tutur Wakil Kepala Sekolah tersebut. Dalam hatinya, Sido bercita-cita bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga ke perguran tinggi. “Tapi menurut hitunghitungannya, cita-cita itu sulit terwujud. Karena sampai sekarang kami baru bisa memenuhi kebutuhan pokok dalam sehari-hari saja. Kita belum tahu apa kebutuhan besok bisa terpenuhi,” katanya sambil menerawang. ■ Moh Anshari |