|
Peringatan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono dibayangi aksi demonstrasi massa secara besar-besaran. Penyelesaian skandal Bank Century jadi isu utama. SALAH kelompok yang akan menurunkan massa pada peringatan yang jatuh pada hari Kamis, 28 Januari itu antara lain kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Club. Kelompok ini mengaku akan mengepung dan menduduki Istana Presiden. “Saatnya kita kembalikan amanat kepada rakyat pada 28 (Januari) nanti. Kita kepung dan kita duduki istana,” ujar Ketua Bidang Politik GMKI Sutrisno, dalam jumpa pers di Jakarta Media Center (JMC), Kebon Sirih, Jakarta, Minggu (24/1). Selain GMKI, Cipayung Club antara terdiri dari HMI, IMM, KAMMI, GMNI, PMKRI, Himabudhi, dan KMHDI.
Cipayung Club menilai SBY telah gagal membangun optimisme dalam 100 hari pemerintahannya.Kegagalan terjadi karena SBY disibukkan oleh kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. “100 hari itu harusnya membangun optimistis, tapi yang kita lihat sekarang justru pesimis. Karena program kerja 100 hari itu adalah dasar pijakan untuk lima tahun ke depan,” tambah Ketua Umum PB HMI, Arif Mustofa. Arif mengatakan, indikator gagalnya pemerintahan SBYBoediono karena pemerintah terlalu sibuk menaruh perhatian terhadap kasus warisan sebelumnya seperti kasus Century. Hal itu yang menyebabkan konsentrasi pemerintah tidak terarah dan bahkan pemerintah tidak memenuhi janji-janjinya saat kampanye pilpres lalu. Namun, ancaman massa Cipayung Club yang akan mengepung Istana dianggap angin lalu oleh sebagian kalangan. Menurut mereka, ancaman itu tidak relevan. Alasannya tidak ada isu kuat yang diusung, juga legitimasi Presiden SBY yang kuat. “Jadi itu baru isu-isu saja. Pemerintah sekarang legitimasinya kuat, didukung 60 persen. Kemudian ada isu apa? Karena 100 hari itu kan baru pelaksanaan program-program,” kata pengamat politik LIPI, Lili Romli, Minggu (24/1). Menurutnya, tidak ada konteks yang tepat untuk mengerahkan massa dalam jumlah puluhan ribu. “Saya pikir nggak akan ada demo besar-besaran, konteksnya apa? Kalau mengharapkan pencapaian luar biasa di 100 hari, itu impossible. Barack Obama saja tidak sampai,” terangnya. Kalau pun ada demo, kata Lili, hanya ada demo biasa saja, tidak terlalu besar dan heboh. “Biasa sajalah, yang penting demo sekarang jangan sampai mengganggu stabilitas,” tutupnya. Pihak Istana tampaknya juga tak terlalu merisaukan isu tersebut. Buktinya, saat rapat dengan kabinet di Cikeas, SBY sama sekali tidak menyinggung soal isu peringatan 28 Januari itu. “Tidak bahas itu,” ungkap Juru Bicara Kepresidenan Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha, Minggu (24/1). Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto juga mengaku belum mendapatkan laporan akan adanya kerusuhan pada demo 28 Januari besok. “Aman,” kata Sutanto saat di Istana Wakil Presiden, Jumat (22/1). Di tempat yang sama, Menko Polhukam Djoko Suyanto mempersilakan warga untuk melakukan aksi unjuk rasa pada hari itu. Tapi, dia mewanti-wanti bahwa ruang untuk kebebasan demokrasi yang diberikan itu selalu berdampingan dengan hak-hak masyarakat yang lain. “Jadi, jangan sampai mengganggu masyarakat lainnya, apalagi sampai melakukan kegiatan yang melanggar hukum,” harap Djoko, Jumat (22/01). Meski begitu, Djoko tidak pernah memandang sebelah mata setiap aksi yang ada. Berbagai antisipasi akan tetap dilakukan. Djoko pun meminta agar demo dilakukan tetap pada koridornya. “Kita harap dalam pelaksanaannya nanti, para demonstran tetap berpegang pada koridornya. Dan jika itu dilanggar, akan kita tangkap, biar ke depannya aksi seperti ini bisa berjalan tertib berjalan dengan enak,” tutupnya. ■ Moh Anshari, Sri Widodo |