|
Setelah KPK, giliran pers yang dikriminalisasi. Di mana peran Anggodo dalam kasus ini? Siapa sebenarnya pria gaek berjuluk Cungek itu? JUMAT (20/11) lalu, penyidik Mabes Polri memanggil Redaksi Kompas dan Seputar Indonesia (Sindo) terkait pemberitaan tentang rekaman Anggodo Widjojo di Mahkamah Konstitusi (MK). Pemanggilan tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Polri dinilai melakukan kriminalisasi terhadap pers hanya untuk meladeni kasus Anggodo. Siapa sebenarnya Anggodo sehingga begitu “sakti”? Sampai detik ini, dia yang dituding sebagai pelaku utama kriminalisasi KPK masih bebas berkeliaran. Kini, giliran pers yang dikriminalisasi.
Berdasarkan data yang dihimpun Indonesia Monitor, Anggodo memang sosok yang tak asing di dunia makelar kasus (markus). Anggodo dan kakaknya, Anggoro Widjojo, dikenal sebagai pengusaha sejak era 80-an. Pada saat itu, Anggodo Widjojo alias Ang Tju Nek dan Anggoro Widjojo alias Ang Tju Hong menjadi bos agen SDSB, ketika undian berhadiah itu dilegalkan pemerintah. Keduanya berawal dari kampung Kalimati, Surabaya. Anggodo dan Anggoro lahir di Jalan Karet No 12 Surabaya, Jawa Timur. Orang tuanya bernama Ang Kwe Hwa, pengusaha yang memiliki banyak bisnis. “Saat kecil biasa dipanggil Cungek. Orang-orang asli sini lebih kenal dengan nama itu daripada nama Anggodo,” ujar teman kecil Anggodo, Naksabandi (62), Rabu (4/11). Kakak beradik itu banyak berkecimpung di bisnis kayu jati. Seorang pengusaha yang cukup dekat dengan keduanya sejak kecil, mengatakan mereka dikenal bengal sejak kecil dan remaja. “Mereka suka berkelahi, terutama yang gemuk itu (Anggodo),” ujar pengusaha senior di Surabaya. Namun, pada awal 1990-an, bisnis dua bersaudara itu memasuki masa suram. Sejak itu mereka tidak terdengar kiprahnya di jagat bisnis Surabaya. Kabar keduanya baru muncul 10 tahun kemudian, saat mereka mendirikan PT Masaro Radiokom dan menjadi agen pemasaran Motorola, perusahaan telekomunikasi asal Amerika Serikat. Sejak itu mereka kembali sering muncul di pergaulan di kalangan pengusaha Surabaya. Namun, kelompok pengusaha senior Surabaya kembali kecewa saat mengetahui bahwa perilaku Anggodo dan Anggoro tidak berubah. “Ternyata, saat sukses lagi, muncul sombongnya,” ujarnya. Bahkan, di kalangan penikmat dunia malam di Jakarta dan Surabaya, Anggoro dikenal sebagai pengusaha yang suka berfoya-foya. “Pernah dia mem-booking 30 cewek sekaligus dan masing-masing dikasih Rp3 juta. Cerita ini begitu terkenal. Jika tidak percaya, cek di bar-bar terkemuka di Jakarta dan Surabaya,” ujarnya. Anggodo juga dikenal sangat flamboyan. Dia gampang luluh terhadap wanita. Ong Yuliana adalah salah satu contohnya. Anggodo dan Ong Yuliana dikenal dekat sejak 2006 lalu. Ketika itu dia membantu kasus Ong Yuliana yang baru saja menjadi kontroversi di Surabaya. Orang-orang di sekitar Jalan Karet, Surabaya, sangat mengenal sosok Anggodo. Untuk orang-orang kecil, seperti pedagang asongan di sekitar kawasan rumahnya, Anggodo adalah sosok yang royal. Karena kedermawanannya, orang-orang di kawasan itu sangat segan, lebih-lebih keluarga Anggodo termasuk golongan berpunya. “Bapaknya orang terkaya di sini. Sempat punya bank dan semua toko kelontong di kawasan ini milik bapaknya,” kata Slamet, salah seorang penjual warung PKL di kawasan Jalan Karet. Namun, Slamet mengatakan bahwa rumah milik keluarga Anggodo sekarang lebih sering tutup. “Jarang terlihat aktivitas di sana,” imbuhnya. Ini memang beralasan. Tujuh tahun terakhir Anggodo lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta ketimbang di Surabaya. “Sejak 2002, dia lebih sering di Jakarta. Dia mengembangkan jaringan di sana,” ucap seorang perwira polisi yang tak mau disebutkan namanya. ■ Sri Widodo
 |