|
GURU spiritual SBY, KH Ahmad Muzakki Syah memprediksi santrinya itu akan ditinggalkan pendukungnya jika tidak menuruti kemauan rakyat. “Kalau mementingkan koruptor, nasibnya bisa fatal, seperti Soeharto dulu,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri, Jember, Jawa Timur kepada Moh Anshari dari Indonesia Monitor, Jumat (20/11). Nasibnya bisa sefatal apa? Dia bisa diadili oleh rakyat. Rakyat yang dulu mendukungnya dalam pilpres akan bedol desa. Dia akan ditinggalkan oleh pendukungnya karena mereka pasti kecewa. Sebaliknya, kalau Pak SBY memihak kepada rakyat, posisinya akan semakin kuat. Ini ujian bagi beliau. Apakah mau mengikuti kehendak rakyat ataukah menuruti kepentingan kelompok yang bernafsu KKN itu.
Di tengah kepanikannya saat ini, apakah SBY atau tim dan orang-orang dekatnya menghubungi Anda untuk konsultasi? Belum. Sejak kabinet sekarang diangkat, Pak SBY maupun timnya tidak pernah lagi menghubungi saya. Saya tidak akan menghubungi kalau tidak inisiatif dari mereka sendiri. Siapapun itu, saya tidak mau duluan yang mengontak kalau tidak dihubungi atau tidak butuh saya. Kecuali mereka sendiri yang datang sendiri ke sini. Memang kenapa putus komunikasi sekarang? Pak SBY tidak mau ada intervensi dalam menyusun dan mengangkat menteri-menterinya. Mungkin atas pertimbangan itu, saya tidak lagi dikontak, dan saya tidak mau ngontak. Apakah SBY bakal jatuh di tengah badai keras saat ini? Insya Allah tidak. Saya mendoakan saja semoga beliau tetap bertahan dan diberi kemenangan oleh Allah. Tapi kalau beliau melawan nurani rakyat, tidak ada yang bisa membendung kekuatan rakyat. Kalau dia nggak memihak rakyat, nggak akan kuat. Siapapun itu. Tapi kalau mengikuti tuntutan rakyat, dia akan makin kuat. Karena itu, dalam kasus yang sekarang ramai ini, SBY harus memihak kepada rakyat. Sebaiknya, Kapolri dan Jagung dicopot nggak? Itu beliau yang paling tahu. Tapi kalau menjadi duri dalam daging dan terbukti bersalah, copot saja mereka. Nggak usah takut. Jadi, menghadapi tekanan soal kasus KPK sekarang, SBY harus konsisten di jalur rakyat. Itulah jalur yang benar. Soal kasus Anggodo, Anda mengikuti? Kurang begitu. Tapi siapapun yang mau mempermainkan hukum di negeri ini, harus ditindak tegas. Tidak boleh ada kompromi. Pasti rakyat ada di belakangnya. ■
 |