|
 Tjipta Lesmana SEHARUSNYA Presiden SBY secepatnya menindaklanjuti hasil temuan Tim 8, tidak perlu menelaah lagi sampai sepekan lebih. Sebab, pembentukan Tim 8 itu mengandung arti SBY tidak percaya sama Polri dan Kejaksaan. Karena itu, SBY harus percaya dengan hasil dari Tim 8 yang dibentuknya sendiri. Apalagi tidak ada yang protes terhadap personel Tim 8 yang punya integritas tinggi itu. “Pertama, kasus Bibit-Chandra yang harus dihentikan. Sebab, tidak cukup bukti. Kemudian soal reformasi kejaksaan dan Polri serta Century tahap berikutnya,” ujar pengamat komunikasi politik Tijpta Lesmana kepada Indonesia Monitor, Jumat (20/1). Meski begitu, Tjipta pesimis SBY akan mengikuti rekomendasi Tim 8 secara utuh. Sebab, jika kasus Bibit-Chandra dihentikan, mungkin bagi Presiden dan para pembantunya dianggap akan menampar citra dan integritas lembaga kepresidenan. Tapi SBY perlu menimbang mana risiko, manfaat, dan kerugian yang lebih besar jika mengabaikan rekomendasi tersebut.
“Menurut saya, manfaatnya lebih besar kalau Presiden menjalankan rekomendasi Tim 8, ketimbang mikir-mikir soal citra. Memang kalau kasus ini dihentikan akan berimplikasi hukum yang cukup kompleks,” tutur guru besar ilmu hukum Universitas Pelita Harapan itu. KPK, lanjut Tjipta, berusaha dijegal supaya kasus Century tidak dijamah secara membabi buta. “Penjeratan Bibit dan Chandra ingin mengganjal supaya kasus Century jangan diramaikan lagi. Semua ini sangat terkait sekali secara langsung. Dulu kan mereka sudah mulai melakukan penelitian atas indikasi kasus Century. KPK kemarin sudah mengarahkan moncongnya ke kasus Century,” paparnya. Tjipta mengungkapkan, setelah rapat kabinet lengkap, SBY mengumpulkan 18 menteri dari parpol untuk membahas kasus Century. Setelah itu, keluar pernyataan dari Menkum HAM bahwa Presiden tidak terlibat dan tidak ada aliran dana Century ke Partai Demokrat. “Saya dari dulu mengharap Presiden menggelar jumpa pers untuk memberikan pernyataan secara tegas bahwa Presiden atau Demokrat tidak ada sangkut-paut dengan Century. Dia musti tegaskan itu. Kalau memang dia tidak terlibat dengan Century kenapa mesti takut, kenapa tidak dikatakan saja di depan publik secara langsung,” tegasnya. Jika SBY dan Demokrat takut untuk membereskan kasus ini, kata dia, publik justru akan curiga ada apa-apa. Apalagi, Fraksi Demokrat di DPR pagi-pagi sudah pasang badan dengan alasan menunggu hasil audit BPK. Sangat terlihat mereka tidak senang dengan gerakan pengajuan hak angket Century. “Ini patut dipertanyakan. Ada apa ini? Kalau memang tidak terlibat, mestinya SBY meneriakkan slogan Bung Karno, ‘Ini dadaku, mana dadamu’. Buka bajunya, silakan diperiksa. Kalau tidak terlibat, mestinya jantan dan terus terang dong,” tuturnya. Tjipta memprediksi, SBY akan mengambil jalan aman di tengah jepitan dua tuntutan yang saling bertolak-belakang. Jalan tengah yang paling mungkin diambil SBY adalah mencopot Kapolri dan Jagung tapi tetap melanjutkan kasus Bibit dan Chandra karena yang terakhir ini terkait untuk pengamanan kasus Century yang disebut-sebut melibatkan Demokrat. “Misteri kotak pandoranya di situ. Kan sudah ada sinyal dari SBY, dia katakan kalau memerintahkan penghentian kasus hukum itu takut dianggap mengintervensi. Padahal, menurut Tim 8 itu bukan langkah intervensi. Kalau jalan aman itu yang ditempuh SBY, jelas reaksi publik akan kecewa, mereka tetap akan sinis terhadap SBY,” ujarnya. ■ Moh Anshari
 |