|
Imej SBY tak ada lagi yang tersisa di mata media-media asing. Sinyal ucapan ‘good bye’’dari Amerika dan sekutunya? RAUT muka SBY berbinar saat membagikan majalah The Economist kepada koleganya di Boston, Amerika Serikat. Hari itu, 27 September 2009 adalah hari yang sangat membahagiakan Presiden VI RI itu. Maklum, dalam majalah bertiras lebih dari 1,2 juta itu dilaporkan bahwa perekonomian Indonesia maju pesat di bawah kepemimpinan SBY. Kegirangan SBY disanjung media asing tak hanya kali ini saja. Sebelumnya nama SBY masuk dalam 100 tokoh paling berpengaruh dunia versi majalah TIME untuk kategori Leaders & Revolutionaries. Sebanyak 20 tokoh masuk kategori ini. Selain SBY, tercatat juga PM Inggris Gordon Brown, Menlu Hillary Clinton, raja narkoba Meksiko Joaquin Guzman, Senator AS Edward Kennedy, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Wakil PM Israel Avigdor Lieberman, dan Presiden Barack Obama.
Menurut jurbir presiden ketika itu, Andi Mallarangeng, SBY bersyukur dan bangga telah masuk dalam TIME 100. Andi mengatakan, masuknya SBY yang ketika dilantik diliput oleh 1.339 wartawan itu merupakan bukti bahwa kinerja SBY selama kurang lebih lima tahun memang terlihat. “Rakyat Indonesia harus ikut bangga karena Presiden Indonesia masuk dalam TIME 100. Di bawah kepemimpinan SBY, daya tahan negara kita sangat bagus,” lanjut Andi yang kini menjadi Menpora itu. Belum genap dua bulan sanjungan buat SBY, The Economist, majalah yang bermarkas di London itu kembali menulis tentang SBY. Tapi, kali ini menyentil. Dalam artikel yang berjudul “Yudhoyono: second term, first crisis”, The Economist menulis usai kemenangan mutlak dalam pilpres, SBY malah dihadapkan pada skandal politik yang melibatkan KPK, kepolisian, dan Kejaksaan Agung. Skandal ini, tulis The Economist, menenggelamkan ambisi SBY mereformasi ekonomi. Skandal tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk rezim Soeharto masih menghantui Indonesia. SBY berjanji akan mempertahankan supremasi hukum, namun menurut The Economist, masih belum jelas apakah SBY memahami beratnya krisis ini. The Economist tidak sendirian. Media-media asing lainnya juga menyoroti skandal ini, di antaranya The Wall Street Journal (WSJ). Harian berpengaruh di Amerika itu bahkan mempertanyakan sikap diam SBY dalam kasus itu. Sikap diam SBY dinilai berbahaya, apalagi mengingat beberapa kubu politik telah berupaya melemahkan pengaruh KPK. Seperti awal tahun ini, sebuah RUU dimasukkan ke parlemen yang akan menghapuskan wewenang penyadapan oleh KPK. Dalam opininya, Jumat (13/11), WSJ juga memasang judul “Indonesia Antigraft Showdown: Will the president support the anticorruption commission?” Sebelumnya harian ini mengangkat tulisan dengan judul “Tapes of Alleged High-Level Conspiracy Electrify Indonesia”. Koran The New York Times (NYT) tak ketinggalan. NYT mengangkat judul “Indonesia Officials Resign in Graft Scandal”. Adapun BBC Radio Australia mengusung judul “Public anger over conspiracy to undermine Indonesia’s corruption watch”. Bahkan media Asia Times menulis judul “Corruption bomb explodes in Indonesia”. Direktur Lembaga Riset Nasional (LRI), Umar S Bakrie tak bisa membayangkan betapa paniknya SBY saat ini. “Kita tidak tahu seperti apa suasana batin dia, dihajar media dari luar dan dalam negeri,” ujarnya kepada Indonesia Monitor, Rabu (11/11). Umar meyakini bahwa media asing sangat obyektif dalam melihat kasus apapun. “Kalau mereka salah memberikan pendapat atau pemberitaan, habislah mereka,” tuturnya. Agar tidak menjadi bulan-bulanan media, Direktur Eksekutif LSI (Lingkaran Survei Indonesia) Denny J Ali menyarankan agar SBY segera melakukan klarifikasi atas kasus Century. “Ketidakpuasan rakyat ini akan terus meluas. Ketidakpuasan ini juga bisa menurunkan kredibilitas lembaga resmi politik. Dan trust kepada lembaga ini rendah sekali,” katanya kepada Indonesia Monitor, Kamis (12/11). Menurut anggota Dewan Pakar DPP Partai Demokrat (PD) Sutan Bhatoegana, pemberitaan media baik lokal maupun asing masih dalam batas wajar. “Di era globalisasi, pemberitan seperti itu tidak masalah,” katanya kepada Indonesia Monitor, Jumat (13/11). Sutan menegaskan sejauh ini SBY belum risau atas pemberitaan itu. “Biar waktu yang membuktikan, siapa yang benar siapa yang salah,” kata anggota Fraksi PD DPR itu. ■ Sri Widodo
 |