|
Rendra bukan hanya budayawan besar, ia juga tokoh pergerakan dengan jejak perjuangannya yang nyata. Kesetiaannya pada cita-cita membuat Rendra dijadikan panutan para aktivis pergerakan Indonesia.
PARA aktivis pergerakan dari generasi 78, 98 dan angkatan yang lebih muda, Jumat malam pekan lalu, tampak berkumpul di Rumah Perubahan Dr Rizal Ramli, di Jl Panglima Polim V No 52, Jakarta Selatan. “Kami menyelenggarakan semacam kenduri untuk mengenang Rendra, tokoh pergerakan Indonesia terbesar pascakemerdekaan,” ujar Adhie M Massardi, mewakili Dr Rizal Ramli yang sedang berada di luar negeri, kepada Indonesia Monitor. Malam itu, dalam suasana remang cahaya lilin, tampak antara lain Indro Cahyono dan Abdulrachim, aktivis ITB angkatan 78, Kasino dan Firman Tendry, aktivis 98, Andriyanto, Ketua Umum ProDem, Lalu Hilman (Ketum LMND), Marlo (Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia), dan sejumlah aktivis mahasiswa dari berbagai kampus di Ibukota. Selain para aktivis, hadir pula politisi senior dari PDIP Panda Nababan, Samuel Kotto (Hanura), Fadli Zon (Gerindra), pemerhati seni dan ahli filsafat politik Dr Daniel Dhakidae, Dr Yudi Latif (Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia), dosen sastra UI Dr Ibnu Wahyudi, dan mantan pejabat era Orde Baru Moerdiono, yang belakangan sangat bersahabat dengan Rendra. Sementara Iwan Burnani, hadir mewakili keluarga besar Bengkel Teater Rendra. Perhelatan “Mengenang Rendra sebagai Tokoh Pergerakan” ini diisi dengan diskusi tentang perjalanan politik Rendra, diselingi pembacaan sajak-sajak Si Burung Merak itu. Para pembaca sajak antara lain Deddy “Nagabonar” Mizwar, artis Lola Amaria, Rieke Diah Pitaloka, wartawati senior Linda Djalil, sastrawan Teguh “Ali Topan” Esha, Noorca M Massardi, Dewi Yanthi Razalie, dan lain-lain. Dari sajak-sajak dan komentar serta kesan para tokoh yang hadir malam itu, memang menujukkan kebesaran Rendra. Menurut Dr Daniel Dhakidae, Rendra memliki tiga fase kehidupan. Ketika di Jogjakarta, hingga awal tahun 70-an, Rendra adalah penyair romantik yang sajak-sajaknya sangat indah dan kuat. “Yang paling memukau sajaknya yang berjudul Khotbah,” katanya. Ketika Rendra pindah ke Jakarta hingga pertengahan tahun 80-an, menurut Dhakidae, adalah fase kedua Rendra, sebagai aktivis pergerakan, sebagai demonstran. Drama dan sajak-sajaknya, yang digelar di kampus-kampus, adalah reaksi atas kondisi sosial politik di sekitarnya. “Namun meskipun hadir sebagai demonstran, sajak-sajak Rendra tetap memiliki estetika yang luar biasa,” nilainya. Yang menarik, kata Dhakidae, adalah fase ketiga. Mulai pertengahan 90-an hingga akhir hayatnya, Rendra bersikap seperti prophet, seperti “nabi”. Ia hadir dengan “kesaksian-kesaksiannya”. Ia sampaikan kesaksiannya kepada siapa saja yang dijumpainya, Untuk itu, Rendra tak perlu lagi argumentasi. “Ini kan karakter dan sifat nabi,” jelas Daniel Dhakidae. Panda Nababan menjelaskan posisi Rendra saat hadir dalam acara deklarasi capres-cawapres PDIP di Bantar Gebang. Konon ini yang membuat Istana jadi ragu berbelasungkawa. “Padahal kehadiran Rendra di Bantar Gebang lebih merupakan keinginannya sendiri. Karena siapa pun yang ingin memperjuangkan rakyat, pasti akan didukung Rendra. Jadi bukan karena Rendra orang PDIP atau Gerindra. Lagi pula, kami sudah berteman sangat lama,” tutur pentolan PDIP ini. Sedangkan Yudi Latif lebih melihat Rendra sebagai tokoh pergerakan yang paripurna. “Selain dengan (puisi) karya-karyanya, ia sendiri nyaris hadir dalam setiap pergolakan pergerakan pada era 70 dan 80-an,” katanya. Tapi yang paling menarik, menurut Yudi, Rendra begitu setia bergelut dalam perjuangan membela kaum marjinal, melawan kezoliman, menentang ketidakadilan. “Dan hal ini ia lakukan terus hingga akhir hayatnya,” tambah Kepala PSIK Indonesia ini. Rendra memang sosok pejuang, intelektual penjaga garis depan yang setia. Ia tak tergoda “Jalan Pragmatisme” yang melanda dunia politik dan pergerakan di negeri ini. “Makanya di tengah suasana yang galau seperti sekarang ini, ketika uang dan kekuasaan menggoda semua orang, kami merasa perlu memasang Rendra sebagai ‘penjaga rambu moral’ di jalan perjuangan rakyat,” ujar Adhie M Massardi. Menurut Adhie, kemasan mengenang Rendra sebagai ikon perjuangan akan terus dilakukan, di tempat-tempat lain. Apalagi hampir semua sajak kritik sosial Rendra, masih sangat aktual hingga hari ini. Seperti Sajak Sebatang Lisong, Doa Orang Lapar, dll. Menurut Adhie, ada dua hal kenapa sajak-sajak Rendra tetap aktual. Pertama, karena estetika sajak Rendra memang bermutu tinggi. Kedua, kondisi bangsa ini tidak kunjung berubah. “Itulah sebabnya, untuk menghargai kebesaran Redra, tidak ada cara lain kecuali meneruskan perjuangannya,” katanya. Lebih dari itu, Adhie berharap pada masa mendatang, para aktivis tidak perlu lagi mengimpor Che Guevara sebagai ikon perjuangan. “Nilai Rendra sebagai ikon perjuangan, selain lebih membumi, jejaknya lebih jelas dan terasa bagi kita semua,” pungkasnya. ■ Ivan/Sudarto |