|
POS Menteri Komunikasi dan Informasi, ternyata cukup ramai diperebutkan. Bos harian Rakyat Merdeka (RM) Margiono kerap disebut sebagai salah satu kandidat terkuatnya.
Setelah nama Presiden PKS Tifatul Sembiring, Andi Mallarangeng, caleg Demokrat Roy Suryo, dan pakar telematika Onno W Purbo sering disebutsebut sebagai pengganti M Nuh yang akan digeser ke posisi Mendiknas. Kini muncul nama bos Rakyat Merdeka Group Margiono yang tak jarang didengungkan untuk duduk di kabinet SBY-Boediono. Margiono yang akrab disebut MG, memang bukan orang baru di lingkungan Cikeas. Pria kelahiran Tulungagung, 31 Desember 1960 ini loyal mem-backup pemberitaan SBY sejak 2004. Bahkan, ketika masa kampanye Pilpres 2004, SBY menyempatkan diri mengunjungi kediaman Margiono. Malamnya, SBY disuguhi pagelaran wayang kulit di Lapangan Pasar Pahing, dekat terminal Tulungagung. Terpilihnya MG sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke-22 periode 2008-2013 juga atas restu dari SBY. Kendati begitu, MG bukanlah orang sembarangan dalam ranah penerbitan di Indonesia. Setelah sukses dengan RM, MG kemudian melahirkan koran populer Lampu Merah (saat ini menjadi Lampu Hijau). Pria yang memulai kariernya sebagai wartawan Jawa Pos tahun 1984 terbilang cukup gemilang untuk urusan media. Untuk bisa mencapai pimpinan redaksi, MG hanya butuh waktu enam tahun. Mantan Sekjen Asosiasi Jurnalis Independen Abdul Manan, mengungkapkan, dibanding dengan Ketua PWI sebelumnya, Margiono lebih fleksibel dan terlihat bisa diharapkan untuk membawa perubahan di tubuh organisasinya. “Meski dia baru setahun menjabat sebagai Ketua PWI, MG lebih maju dibanding pendahulunya. MG bisa mempertemukan PWI dengan AJI yang hampir tidak bertegur sapa sebelumnya,” ujar kepada Indonesia Monitor. Terkait dengan namanya yang sering disebut-sebut akan menduduki posisi Menkominfo, Abdul menilai, MG sudah memiliki modal, minimal dalam penguasaan isu. “Karena notabene dia adalah bos media, pastinya dia paham betul bagaimana memposisikan media dengan pemerintah,” katanya. Sementara pengamat politik LIPI Siti Zuhro, menilai modal jabatan PWI dan background sebagai bos media saja belum cukup untuk bisa duduk di pos Menkominfo. “Realy that’s not enough,” ujarnya. Dikatakan Siti, tugas Menkominfo saat ini sebetulnya, bukan hanya melakukan sosialisasi kebijakan pemerintah secara formal, namun ada tugas-tugas lain yang sebetulnya lebih penting. “Kemampuan memberikan informasi yang cepat, memadai dan berimbang sehingga tidak menimbulkan miss komunikasi antar pemerintah dan masyarakat,” tegasnya. Terkait dengan pencalonan MG muncul tanggapan menarik dari anak buahnya sendiri. Salah seorang wartawan Rakyat Merdeka Group yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, secara formil akademik MG tidak memadai untuk duduk di posisi Menkominfo. Namun, kalau MG terpilih, dia berharap kesejahteraan karyawan Rakyat Merdeka Group lebih diperhatikan. “Ya masak, bosnya udah jadi menteri, gaji karyawannya masih kecil, kan naif,” ucapnya. ■ Dimas Ryandi |