|
Boediono disebut-sebut penganut ajaran Kejawen. Bahkan, sang istri, Herawati, dikabarkan beragama Katolik. Kader-kader parpol Islam di ujung bimbang.
RABU, 13 Mei 2009. Rumput masih berembun ketika Amien Rais tiba di kompleks Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta. Diarahkan petugas penerima tamu, Ketua MPP DPP PAN itu bergegas masuk Wisma Negara. Tak selang lama, SBY yang mengundang Amien secara khusus, menyambut dengan senyum mengembang. Usai jabat tangan dan cipika-cipiki, mereka berbicara serius, empat mata. “Saya bilang, ‘Pak SBY, saya masih belum mengerti jalan pikiran Pak SBY memilih Boediono sebagai cawapres’,” tutur Amien Rais di depan kader-kader PAN di Libra Room, Hotel The Sultan, Senin (25/5). Meski SBY telah menjelaskan panjang lebar, Amien masih tetap merasa belum puas. Ia pun kembali membombardir lawan bicaranya itu dengan argumen yang telah ia susun rapi selama di perjalanan ke Istana. “Pak SBY dan Pak JK itu sangai ideal, karena majemuk. Wajar kalau pemerintahan SBY-JK sukses. Pemimpin yang benar memang harus mengedepankan kemajemukan, seperti halnya Bung Karno dan Bung Hatta,” urainya. Tak lupa, Amien juga menying gung keringnya warna Islam jika SBY memaksakan diri tetap mengambil Boediono sebagai tandemnya di Pilpres 2009. Ia khawatir, kader-kader parpol Islam bakal bimbang jika ada pilihan yang lebih mengena di hati mereka. “Saya sendiri kalau bicara di hadapan warga Muhammadiyah, memperjuangkan SBY- Boediono, akan sulit bicara. Beda kalau SBY-Hatta, bakal lancar banget. Meski nggak disangoni, pakai duit sendiri saya rela,” ucapnya. Meski berbusa-busa, argumentasi Amien sepertinya dianggap angin lalu oleh SBY yang pagi itu bergegas terbang ke Manado untuk meninjau persiapan pembukaan World Ocean Conference. Amien pun buru-buru cabut. Sesampai di rumah, Amien langsung menulis surat sepanjang empat halaman yang ditujukan khusus kepada SBY. “Saya tulis pakai bahasa Inggris,” ujarnya. Dalam suratnya, Amien mengakui mustahil berharap SBY mengubah keputusannya. Namun, sebagai sahabat, dia ingin memberikan beberapa pandangannya, termasuk menyebut keunggulan pasangan “tetangga”, JK-Wiranto. “Pasangan JK-Wiranto berhasil menerapkan politik simbol. Misalnya Pak JK berasal dari Makassar, istrinya Padang. Sementara Pak Wiranto asli Solo, istrinya Gorontalo. Dan istri-istri mereka pakai jilbab,” ungkapnya. Sehari kemudian, menjelang deklarasi SBY-Boediono, 15 Mei 2009 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), ITB, Bandung, Amien kembali bertemu SBY. Di situlah ia akhirnya angkat tangan. SBY memastikan tidak akan mengubah pilihannya. “Sehingga PAN, nggak perlu ngoyo. Setel kendo saja. Karena masa depan PAN masih panjang, tidak bergantung Pilpres,” ujarnya. Amien pun lantas membebaskan kader PAN untuk menetapkan pilihan capresnya, apakah masuk barisan pendukung JK-Wiranto, Mega-Prabowo, atau tetap di SBY- Boediono. Dia juga menjamin tidak akan ada sanksi kepada kader PAN yang bergabung dengan capres di luar SBY. “Kalau ada kader PAN ber-ijtihad ke capres lain, silakan saja. Itu bukan pengkhianat,” tegasnya. Kini, kekhawatiran Amien menjadi kenyataan. Setelah ia membebaskan kader-kader PAN menentukan sikapnya di pilpres, kini giliran kader-kader PKS yang dilanda kebimbangan. Mereka merasa sedang berada di persimpangan jalan. Tak sekadar soal isu jilbab yang santer selama sepekan ini karena istrinya SBY dan Boediono tidak memakai jilbab seperti istri JK dan Wiranto, kader-kader PKS kini juga dibingungkan dengan munculnya kabar tentang status keislaman keluarga Boediono. “Kawan-kawan pada bertanya, apa betul istri Boediono non-muslim,” ujar sumber Indonesia Monitor di lingkungan internal PKS. Pertanyaan ini menjadi urgen karena sebelumnya kader-kader PKS berharap istri SBY dan Boediono mengenakan jilbab sebagai jawaban atas keraguan status keislaman keluarga Boediono. “Kalau ternyata Bu Herawati non-muslim, gimana mau pakai jilbab,” cerusnya. Benarkah Ny Herawati Boediono non-muslim? Prof Dr Suparman, mantan konsultan Bappenas saat Boediono menjabat Menteri Negara Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, mengungkapkan, istri Boediono memang non-muslim. “Ya, memang Katholik,” ujar Suparman kepada Indonesia Monitor, Kamis (28/5). Tak hanya itu. Boediono, menurut Suparman, juga memiliki standar keislaman yang berbeda, baik dengan Muhammadiyah maupun NU. “Kalau dilihat dari kacamata PKS, Islamnya Boediono tidak akan masuk,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas Tarumanegara, Jakarta itu. Sebagai Islam dengan latar-belakang Jawa, menurut Suparman, keislaman Boediono kental dengan warna Kejawen. “Mayoritas orang Jawa pasti Kejawen, apakah dia Islam, Katolik, Hindu, atau Budha,” lanjutnya. Pengakuan Suparman dikuatkan oleh Habib Husein Al-Habsyi, Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia. Menurutnya, istri Boediono memang seorang penganut Katolik. Makanya, dia mengaku heran ketika PKS tetap mendukung SBY ketika capres Partai Demokrat itu menetapkan Boediono sebagai cawapresnya. “Apa PKS tidak tahu bahwa istrinya Boediono Katolik,” ujar Habib Husein Al-Habsyi kepada Indonesia Monitor, Jumat (29/5). “PKS sebenarnya sadar dengan hal ini, tapi mereka berhitung dengan kursi yang bakal mereka peroleh, makanya mereka tutup mata dengan penunjukan Boediono,” tambahnya. Ketua Umum PB Al-Wasliyah, KH Azidin, justru menyoroti kualitas keagamaan Boediono yang dikatakan SBY sebagai “muslim yang taat” saat pidato deklarasi pencalonan mereka di Gedung Sabuga, Bandung. Sebab, berdasarkan laporan harta kekayaan yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai salah satu syarat pencalonan, harta Boediono cukup fantastis: Rp 22,6 miliar. Namun, sampai saat ini mantan Gubernur BI itu belum menunaikan ibadah haji. “Kalau seseorang sudah mampu berhaji, harus dan wajib melaksanakan. Kalau orang yang mampu berhaji tapi tidak melaksanakannya sampai akhirnya wafat, maka dia bisa menjadi orang yang merugi, bahkan bisa musrik karena tidak melaksanakan rukun Islam yang kelima,” ujar Azidin kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). Makanya, kata dia, wajar saja jika kader-kader parpol Islam menolak Boediono. Sayangnya, keberatan mereka tidak didengar oleh SBY. Makanya, dia mewanti-wanti kepada parpol-parpol yang masuk dalam koalisi pendukung SBY-Boediono. “Siap-siaplah dikhianati SBY. Jangan ada penyesalan,” ujar mantan anggota DPR dari Partai Demokrat itu. Menurut politisi penganut aliran Kejawen, Permadi, sangat wajar jika Boediono sebagai orang Jawa Islamnya Kejawen. Jadi, selain menjalankan shalat lima waktu, seorang Islam Kejawen juga menjalankan ritual Kejawennya. “Terserah penafsiran orang apakah itu mau dikatakan musrik atau justru Islam yang sempurna,” ujar Permadi kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). Permadi menyarankan, sebaiknya Boediono terbuka dengan status keagamaan keluarganya, jangan ada yang disembunyi-sembunyikan. Sebab, kalau tidak terus terang, justru serangan terhadap keyakinannya akan semakin gencar. “Sebaiknya Boediono ksatria seperti saya, bahwa saya Kejawen, apa susahnya,” tutur politisi PDIP yang baru lompat ke Partai Gerindra itu. Mantan Staf Ahli Boediono saat menjabat Menko Perekonomian, Agam Embun Sunarpati, menepis sangkaan berbagai pihak yang mengatakan Ny Herawati beragama Katolik. “Itu salah total. Itu jelas salah. Faktanya, Ibu itu seorang muslimah seperti kebanyakan orang di Indonesia. Saya tahu persis kalau soal itu,” ujar Agam Embun Sunarpati kepada Indonesia Monitor, Sabtu (30/5). Agam juga heran dengan kesangsian beberapa pihak dengan status keislaman Boediono. Menurutnya, keislaman Boediono tak perlu diragukan lagi. Bahkan, tak sekadar ucapannya, tapi juga perilakunya sudah sangat islami. Dia tahu persis karena selama menjadi Menko Perekonomian, dialah yang selalu membuat agenda kerja Boediono. “Kalau lagi rapat, terus tiba waktunya shalat, beliau meminta untuk istirahat dan rapat diskors dulu untuk shalat,” tuturnya. Hal senada diungkapkan H Yaqub Chudori, kolega Boediono di kampus UGM Yogyakarta. Dia mengaku telah bergaul dengan Boediono sejak 1987 sehingga tahu persis sosok pria kelahiran Blitar, 25 Februaru 1943 itu, termasuk ketaatannya dalam beragaman. “Beliau bahkan ikut tarikat Al-Kamal di bawah asuhan KH Tohir Wijaya, meski belum dibaiat. Markasnya ada di Kebon Jeruk dan Blitar,” ujar Yaqub Chudori kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). “Tapi tipikal beliau memang begitu, nggak banyak omong, sehingga tak banyak yang tahu aktivitas keagamannya,” tambahnya. Yaqub hanya tertawa geli ketika dikonfirmasi soal isu bahwa Ny Herawati, istri Boediono, beragama Katolik. Namun, ia juga sedih isu semacam itu masih saja muncul untuk mendeskreditkan keluarga Boediono. “Ini kayak kasus Bu Ani Yudhoyono yang disebut-sebut beragama Kristen karena namanya Kristiani,” tuturnya. Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq ketika dikonfirmasi soal tudingan beberapa pihak ahwa istri Boediono non-muslim, mengaku tidak tahu-menahu soal latar-belakang dan record keluarga Boediono. Apakah PKS tidak menyelidiki terlebih dulu sebelum memutuskan berkoalisi mendukung SBY-Boediono? “Kita memilih capres-cawapres kan bukan personal, tapi performa. Kalau soal itu (dugaan non-muslim) sangat personal, tidak relefan dikaitkan dengan dukungan PKS ke pasangan SBY-Boediono,” elak Mahfudz Siddiq kepada Indonesia Monitor, Senin (1/6). Sementara itu, Boediono memastikan jika dirinya dan istrinya, Herawati, beragama Islam. Makanya, dia meminta agar publik tidak mempertanyakan lagi keislamannya. “Sejak lahir sampai saat ini saya tidak pernah pindah agama. Islam adalah pegangan hidup saya dan keluarga,” ujar Boediono kepada wartawan di Pondok Tempo Doeloe Juanda, Surabaya, Minggu (31/5). Soal istrinya yang tidak mengenakan jilbab, Boediono mengatakan, meski tidak berjilbab dalam kesehariannya, ia tidak pernah meragukan keislaman istrinya. ■ Moh Anshari, Sri Widodo, Iwan Purwantono
 |