|
 Ruhut Sitompul JUBIR Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengakui ada perpecahan internal di partai koalisi pendukung SBY-Boediono. Namun, hal itu tidak membuat pihaknya khawatir. “Justru merugikan mereka sendiri. Mereka akan turun posisi tawarnya. Sementara, yang solid, ditambah jatah posisinya,” ujar anggota Tim 9 Partai Demokrat itu kepada Moh Anshari dari Indonesia Monitor, Rabu (20/5). Partai-partai pendukung koalisi Demokrat pecah. Anda khawatir? Nggak kok. Partai-partai koalisi pendukung SBY nggak pecah. Semua berjalan dengan baik.
Buktinya elite PAN main di banyak kaki? Nggak. PAN nggak bermain di banyak kaki. Ketua umum dan sekjen bersama kita telah menandatangani kesepakatan koalisi. Kalau ada yang ke tempat lain itu biasa. Kalau yang Anda sebut bermain di kaki lain itu mungkin anggota PAN yang nggak terpilih menjadi anggota DPR. Contohnya Dradjad Wibowo yang katanya ahli ekonomi itu. Dia nyari selamat saja. Karena dia nggak terpilih mungkin posisi dia lemah, kemudian datang ke sana (kubu JK), kita mau bilang apa? Aku juga nggak pernah lihat batang hidung Alvin Lie selama koalisi sama kita. Apa ini akan menurunkan posisi tawar PAN saat bagi-bagi kursi kabinet nanti? Itu akan kita kembalikan nanti kepada pasangan kami, SBY-Boedino yang insya Allah akan menang. Biarlah mereka yang memilih. Kalau kita bertugas untuk bekerja keras memenangkan calon kita. Anda menilai partai yang pecah ini setengah hati mendukung SBY? Oh jelas. Karena semua sudah teken kontrak koalisi permanen. Bahkan bukan hanya koalisi di tingkat pusat tapi sampai ke kabupaten/kota. Itu kontrak selama lima tahun. Apa ini karena sikap Amien Rais yang belakangan tidak mendukung SBY? Itu ruginya PAN sendiri, nggak ada urusan kita. Rugi bagaimana? Seperti yang Anda katakan tadi, posisi tawar PAN bisa kecil nanti. Kalau kita nggak ada masalah, karena sudah final. Kita ini meskipun nggak koalisi sudah memenuhi syarat. Tapi kalau ada partai lain mau koalisi masak nggak kita terima. Apa ini upaya penggembosan terhadap SBY? Karena yang melakukan orang yang nggak laku dan nggak terpilih menjadi anggota DPR, itu bukan penggembosan. Siapa yang mau dia gembosi? Jangan kan menggembosi orang, dirinya aja nggak bisa jadi anggota DPR. Bukankah kalau mau cari aman, para pembelot itu mestinya dukung SBY? Kalau PAN, nggak dong. Kan sudah ada Hatta yang jelas mendukung SBY. Nah kalau orang seperti Dradjad di mana posisinya? Di partainya sendiri nggak laku lagi. ■
 |