|
Para pengusaha terpolarisasi dalam dua kubu. Pengusaha nasional berharap JK-Wiranto yang menang. Investor asing melirik SBY-Boediono. SAAT jadi pembicara utama dalam “Dialog Kadin dan Capres” di Djakarta Theater, Jakarta, 18 Mei 2009, Jusuf Kalla (JK) secara spontan membuka sepatu dan memperlihatkan mereknya ke para peserta dialog. “Ini sepatu produksi pengusaha lokal. Mereknya JK Collections. Saya tanya, apa merek sepatu Anda?” Peserta dialog yang terdiri dari para pengusaha nasional itu pun sempat terperangah, cengar-cengir, lantas menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan bicara ekonomi kerakyatan kalau masih pakai produk luar, sementara produk lokal juga ada,” lanjutnya.
Sikap JK yang lugas, tegas, dan responsif itulah yang membuat para pengusaha nasional begitu terpukul saat SBY memastikan melepas JK di Pilpres 2009. Sebab, selama jadi wapres, Pak JK aktif berperan sebagai pendorong kebijakan ekonomi Indonesia. “Dia selalu berpihak pada pengusaha nasional,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, saat itu. Makanya, ketika JK memutuskan untuk maju sebagai capres berpasangan dengan Wiranto, para pengusaha nasional langsung bertempik sorak. JK pun langsung kebanjiran dukungan dari para pengusaha nasional yang tergabung dalam beberapa organisasi, seperti Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapensi) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Bahkan, baru-baru ini para pengusaha nasional keturunan di Makassar mendeklarasikan Komunitas Tionghoa Pendukung (KTP) JKWiranto dan siap memenangkan pasangan tersebut. Beda JK, beda SBY. Saat hadir di forum yang sama, dua hari setelah JK, tepatnya 20 Mei 2009, capres koalisi 23 parpol itu justru lebih banyak lemparkan jurus tebar pesona. Lihat saja, selama 70 menit berbicara, yang terbagi dalam empat session, SBY setidaknya menggunakan 134 kali bahasa Inggris untuk menyampaikan pendapatnya di depan para pengusaha nasional. Kalimat berbahasa Inggris pertama yang ia gunakan adalah “If I am elected again”, dan kalimat terakhir adalah “My motto is pembangunan untuk semua development for all”. Bisa jadi, karena inilah SBY begitu digandrungi investor asing, selain karena kebijakan ekonomi neoliberalnya yang memanjakan investor luar negeri. “Saya juga terperanjat membaca berita bahwa pasangan SBYBoediono sangat disenangi investor asing, dan yang ngomong adalah pelaku investasi. Ini bisa positif, bisa juga menambah rasa khawatir kami terhadap faham ekonomi yang nanti akan diterapkan,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso kepada Indonesia Monitor, Rabu (20/5). Tak hanya kubu pesaing yang menanggapi sinis duet SBY-Boediono. Menurut Priyo, orang Demokat Juga banyak yang gerah dengan pilihan itu. “Sejak Boediono diumumkan sebagai cawapres, kader Demokrat justru memberikan informasi ke publik, termasuk ke Golkar, bahwa ini keputusan menetapkan ini adalah petaka,” ungkapnya. Fungsionaris DPP Gerindra, Sjukrianto Yulia, menambahkan, buruknya sistem ekonomi liberal karena hanya menghambakan diri kepada mekanisme pasar. “Itu tidak mensejahterakan, tapi malah memiskinkan rakyat, karena hanya meninggalkan warisan utang luar negeri,” ujar Sjukrianto kepada Indonesia Monitor, Sabtu (23/5). ■ Sri Widodo
 |