|
 Kodrat Wibowo SBY boleh saja berbangga diri dengan perolehan suara Partai Demokrat yang cukup tinggi. Namun, tidak ada garansi bahwa dia akan terpilih di Pilpres 2009. Sebab, selain suara mengambang (swing voters) yang masih cukup tinggi, potensi pecah dukungan juga tak terhindarkan. “Untuk mengukurnya tidaklah sulit. Indikatornya adalah, apakah dia bisa diterima oleh media dan masyarakat atau tidak? Ini yang harus menjadi catatan penting,” ujar pengamat komunikasi politik UI Firmanzah kepada Indonesia Monitor, Selasa (19/5). Popularitas SBY, menurutnya, sampai hari ini memang cukup tinggi. Sebab, ia start lebih duluan sehingga elektabilitas lebih tinggi dibandingkan pasangan lain. Tapi, popularitas itu menjadi “tercela” ketika dia memilih Boediono sebagai cawapresnya.
“Makanya, tingkat elektabilitas yang tinggi bukan garansi bahwa SBY bakal terpilih. Saya melihat indikasi bahwa teman-teman di level grass root, swing voters-nya juga besar,” tuturnya. Menurutnya, sikap terlalu percaya diri yang berlebihan (over confident) SBY mendorongnya melupakan teman-teman koalisinya. Adanya perpecahan di tubuh partai pendukung menjadi catatan penting bahwa ada korelasi perpecahan itu dengan sikap percaya dirinya yang berlebihan itu. Elit politik, lanjut Firman, juga tidak bisa dijadikan patokan bahwa sepenuhnya mewakili masyarakat pemilih. “Seperti PKS di Makassar, dari situ mulai ada indikasi perpecahan ketika Anis Matta (Sekjen PKS) bilang bahwa sekarang harus bekerja untuk menyukseskan SBY-Boediono,” ungkapnya. Seruan itu, lanjut Firman, tidak sertamerta ditanggapi secara bulat oleh kader-kader PKS. Tak hanya di PKS, di PAN dan PPP juga menunjukkan indikasi yang sama. “Jadi, kita bisa membayangkan di jajaran elite parpol yang ada di Jakarta suaranya terpecah, bagaimana di level grassroot,” tandasnya. Menurut Firman, yang akan memengaruhi pasangan capres unggul atau tidak bisa dilihat dari produk politiknya yang meliputi siapa pasangannya, track record-nya, media yang digunakan, konten yang akan digunakan, dan bagaimana positioning-nya. Ketiga capres yang ada saat ini, kata Firman, positioning-nya sudah jelas. Pertama SBY-Boediono, pasti akan tetap mengusung kesuksesan selama lima tahun. Mega-Pro pasti akan menolak klaim kesuksesan lima tahun itu. JK juga mengusung sukses lima tahun. Sementara itu, dari sisi konsep ekonomi, menurut pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) Kodrat Wibowo, ketiga capres belum ada yang memiliki konsep secara realistis. “Semua masih bicara jargon, bicara tentang harapan yang sifatnya normatif,” ujar Kodrat Wibowo kepada Indonesia Monitor, Sabtu (23/5). Namun, terkait dengan wacana pertarungan konsep neoliberal versus kerakyatan, menurut Kodrat, pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo mencoba melepas “kutukan” neoliberal. “Kalau SBY-Boediono memang sudah seperti itu pilihannya. Mereka tidak akan lepas dari neoliberalism karena baunya sampai sekarang sudah menyengat. Neoliberalism sudah menempal dalam citra mereka,” paparnya. ■ Sri Widodo
 |