|
Meski didukung tiga parpol Islam terbesar, duet SBYBoediono belum tentu bisa mengumpulkan dukungan penuh dari massa ketiga parpol itu.
JIKA pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014 dilangsungkan melalui sistem perwakilan di parlemen, duet SBY-Boediono dipastikan jadi pemenang. Sebab, dari 23 parpol pendukung koalisi, SBY berhasil mengolek lima parpol yang berhasil masuk DPR dengan total 312 kursi. Sementara, duet JK-Wiranto yang didukung tiga parpol hanya mampu mengumpulkan 125 kursi di DPR. Duet Mega-Prabowo yang didukung sembilan parpol pun hanya mempunyai 121 kursi. Jika dua pasangan ini digabung sekalipun masih di bawah perolehan duet SBY-Berbudi. Namun, karena pemilihan presiden-wakil presiden digelar secara langsung, SBY-Boediono tak semudah itu memenangkan pertarungan. Meski diunggulkan, bukan tidak mungkin pasangan ini dilibas oleh salah satu dari dua rivalnya. Sebab, “Ini pertarungan tesa dan antitesa sehingga lebih kompetitif,” ujar pengamat politik UGM Dodi Ambardi kepada Indonesia Monitor, Kamis (14/5). Menurut Dodi, ada dua faktor yang bisa mendongkrak peluang duet JK-Win dan Mega-Pro mengalahkan SBY-Berbudi. Pertama, adanya perubahan secara radikal dari kondisi ekonomi di Indonesia. Misalnya, muncul krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam secara telak. Kedua, jika ada strategi yang luar biasa besar dan sangat drastis yang dilakukan oleh JK-Win dan Mega-Prabowo. Yang menarik, menurutnya, tidak secara otomatis kebijakan parpol berkoalisi akan diikuti oleh massanya. Seperti Pemilu 2004, saat itu SBY hanya didukung partai kecil, tapi bisa menang. Sementara, kandidat dari parpol besar malah kalah. “Jadi, ada dua macam politik di pilpres itu, politik di tingkat elite dan politik di tingkat pemilih. Nah, kemenangan kompetisi pemilihan itu ditentukan oleh pemilihnya, bukan elitenya,” jelasnya. Menurut Dodi, ada beberapa parpol pendukung SBY-Berbudi yang diperkirakan bakal pecah, termasuk PKS, PAN, dan PPP. “Jika suara PKS, PAN, dan PPP pecah, itu ada efek penambahan suara bagi capres lain selain SBY. Tapi apakah itu signifikan, masih tanda tanya,” tegasnya. Analis politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menambahkan, keputusan SBY menolak cawapres dari parpol melahirkan banyak penafsiran. Satu di antaranya, “SBY tidak mau membesarkan anak macan,” ujar Burhanuddin Muhtadi kepada Indonesia Monitor, Kamis, (14/5). Boediono, lanjut dia, dipandang SBY sebagai bridging untuk proses regenerasi kepemimpinan di Demokrat pada 2014, ketika SBY tidak bisa mencalonkan lagi. Kalau yang dipilih SBY adalah wakil parpol, itu seperti membesarkan anak macan, karena wapres jadi most likely di Pilpres 2009 dan akan jadi contender utama di Pemilu 2014. “Itu akan sangat merugikan Demokrat untuk kepentingan regenerasi kepemimpinan, karena di Demokrat belum muncul figur lain di luar SBY yang bisa menjadi magnet elektoral buat pemilih. Kalau misalnya yang dipilih SBY adalah Hidayat Nur Wahid atau Hatta Rajasa, itu dikhawatirkan akan membesarkan PKS atau PAN,” paparnya. Menurut peneliti CSIS Sunny Tanuwijaya, jika SBY memilih Hidayat, problemnya adalah persepsi PKS sebagai partai kanan ekstrem. “Kalau dia mengambil seseorang dari PKS, itu justru akan mengurangi popularitasnya. Hatta, mungkin dia lebih netral, tetapi Hatta ditolak oleh PKS,” katanya. ■ Moh Anshari, Sri Widodo
 |