|
DI dunia politik, tidak ada teman abadi, kecuali kepentingan abadi. Pepatah orang bijak ini semakin terbukti kebenarannya. Bukti teranyar adalah hubungan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dulu bersama, kini keduanya siap cerai, bahkan bertarung dalam Pilpres mendatang. Mengagetkan? Tidak juga. Sejak keduanya resmi terpilih menjadi Presiden/Wakil Presiden, isu-isu miring seputar keretakan hubungan keduanya jadi santapan media massa. Malah, sampai terbawa-bawa ke tingkat akar rumput.
Saat penyusunan kabinet, misalnya, tarik-menarik kepentingan untuk urusan ‘penjatahan’ kabarnya begitu kentara. Begitupula dengan pembagian wewenang. Ada yang bilang, JK memegang peran dominan dalam pemerintahan, terutama di bidang ekonomi. Ada juga kabar, JK merasa tersinggung gara-gara SBY memimpin rapat kabinet pada September 2005 dengan teleconfrence. Seharusnya ketika Presiden berhalangan memimpin rapat, tugas itu dilimpahkan kepada Wakil Presiden. Pertarungan di tingkat partai hingga akar rumput pun tak kalah sengit. Dalam beberapa ajang pemilihan kepala daerah, Demokrat dan Golkar saling sikut. Kasus pemilihan Gubernur/Wagub Maluku Utara yang sempat memanas, misalnya. Golkar yang mencalonkan Abdul Gafur/Abdurahim Fabanyo meradang karena disingkirkan pasangan Thaib Armayin/Gani Kasuba yang notabene jagoan Demokrat. Oleh KPUD, pasangan Gafur/Fabanyo dinyatakan pemenang. Tapi pusat justru meloloskan Thaib/Gani. Masalah ini sampai dibawa-bawa ke Mahkamah Konstitusi. Hal lain yang membuat Golkar kebakaran jenggot adalah iklan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh Demokrat. Partai Beringin tidak terima kalau kompetitornya merasa paling berjasa di balik kebijakan tersebut. Berkali-kali pula kedua kubu membantah telah terjadi perpecahan. Hingga pada akhirnya, seorang petinggi Demokrat, Ahmad Mubarok mengeluarkan pernyataan yang menohok. Katanya, Golkar pada Pemilu 2009 paling-paling hanya meraup 2,5 persen suara! Partai Beringin langsung bereaksi. Mereka tidak terima karena merasa dilecehkan. Terlebih, pada pemilu lalu Golkar mampu meraih suara terbanyak dengan 21 persen. Agar situasi tak tambah runyam, SBY buru-buru menggelar konferensi pers di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Selasa (10/2). ‘’Dalam kapasitas ketua dewan pembina didampingi ketua umum dan sekjen, saya ingin menyampaikan secara resmi terhadap semuanya itu. Yang jelas, Partai Demokrat tidak pernah berpikir untuk melecehkan Partai Golkar. Tidak ada niat, dan tidak ada pikiran sama sekali,” katanya. Sayangnya isu keretakan SBY-JK sudah telanjur mengkristal. Ditambah lagi kabar Demokrat melirik Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai pendamping SBY. Merasa terus-menerus dizalimi, akhirnya Golkar bersikap. Ketua Bappilu Pusat Partai Golkar, Agung Laksono menyatakan JK calon capres Beringin. Giliran Demokrat tercengang! SBY-JK lantas menggelar pertemuan tertutup di Puri Cikeas. Lewat pertanyaan Juru Bicara Kepresidenan Andi A Mallarangeng terungkap pembahasan hubungan kedua partai yang memburuk belakangan. “Golkar sahabat baik Demokrat, tidak musuh, semua bekerja sama. Kita belajar dari Partai Golkar sebagai partai senior,” ujar Andi. Banyak yang menganggap Golkar dengan segala kapasitas dan sepak terjangnya dalam dunia perpolitikan Tanah Air, sudah pantas memiliki capres sendiri. Sukses 2004 dijadikan parameter proyeksi keberhasilan pemilihan tahun ini. Popularitas JK juga dianggap sudah layak untuk bertarung menuju kursi kepresidenan. Sebaliknya, faktor ketokohan ‘SBY’ menambah rasa percaya diri Demokrat untuk melepaskan diri dari Golkar dalam Pemilihan Presiden 2009. Kini SBY bersiap-siap mencari pendamping baru. Sampai di sini, berakhir sudah perkawinan SBY-JK. Meski demikian, keduanya tentu harus diingatkan, jangan sampai melupakan rakyat yang kini semakin terpuruk karena sibuk ngurus partai atau pencapresan. ■
 |