|
ORANG Blitar bangga pada Soekarno yang jadi presiden. Jalan Cendana jadi harum karena salah satu rumah di sana jadi tempat tinggal presiden (Soeharto). Masyarakat Parepare, Sulsel sangat menghormati BJ Habibie meskipun sudah tidak jadi presiden. Warga Ciganjur bersyukur Gus Dur tinggal di kawasan mereka, karena sejak jadi Presiden RI, selain jadi masyhur, harga tanah di sana terus merangkak naik. Hal yang kurang lebih sama dirasakan warga Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di sanalah Megawati memulai karier politiknya hingga jadi presiden. |

|
|
RODA kehidupan terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Cuma perputarannya memang tidak seragam. Ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat serta ada pula yang lambat sekali. Roda kehidupan mayoritas rakyat Indonesia termasuk yang perputarannya amat sangat lambat. Berbeda dengan roda kehidupan di tingkat kelas atasnya. Para pembesar penguasa negeri silih berganti. Tapi yang digantikan tidak berarti jadi di bawah. Mereka tetap di atas. Hanya posisinya saja yang berubah. Di level organisasi bersenjata, pada era orde baru yang di atas adalah ABRI (Angkatan Bersenjata RI), dengan Angkatan Darat sebagai kampiunnya. Ketika ABRI berubah menjadi TNI, semula konfigurasinya tetap. |

|
|
KETIKA para tokoh Muhammadiyah sudah berkumpul di Yogjakarta untuk menggelar muktamar ke-46, dan hari sudah memasuki malam, dari Afrika Selatan televisi mengirim tayangan langsung yang menyakitkan. Brazil ditumbangkan 2-1 oleh kaki-kaki pasukan Belanda pimpinan Kapitan van Bronckhorst. Keesokan harinya, setelah Presiden Yudhoyono membuka muktamar, juga lewat tayangan dari jarak yang jauh, pada malam harinya muncul berita yang lebih menyakitkan. Argentina bersimpuh di kaki Joachim Loew dan 11 patriot muda Jerman: 4-0. Banyak orang tak bisa percaya melihat kejadian di Afrika Selatan itu. Bagaimana mungkin Amerika Latin, yang kita ketahui sebagai ‘negeri para mulah sepakbola’, bisa keok oleh sepakbola modern gaya Er opa. |

|
|
BOLA itu bundar. Adagium ini tak jelas maknanya. Tapi sering dipakai para komentator bola bila kesebelasan favorit dikalahkan tim underdog. Jadi maksudnya, segala sesuatu bias terjadi di lapangan hijau. Kalau hanya itu, di lapangan politik kita sudah lama hal begituan terjadi. Contoh paling dekat, kebijakan rekayasa yang terbukti merugikan uang negara Rp 6,7 triliun, bisa tidak bermasalah. Bahkan orang yang disebut secara resmi oleh lembaga resmi, bisa tetap santai. Ada yang malah jadi TKW di Washington, ada yang asyik sebagai Wapres, ada juga yang siap mimpin Bank Indonesia, lembaga keuangan negara paling vital yang sebelumnya dijadikan lahan perampokan! |

|
|
29 June 2010 |
WAJIB MILITER
|
|
|
|
KOMISI I DPR sedang membahas RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara. Tema besarnya adalah menyelenggarakan wajib militer (wamil) bagi setiap warga negara usia 18 sampai 45 tahun. Maksudnya untuk membantu apabila suatu ketika TNI memerlukan pasukan tambahan guna memerangi musuh bangsa. Sebagaimana RUU yang lain-lain, termasuk gagasan “dana aspirasi” yang Rp 15 miliar itu, cita-citanya bagus. Atau, menirukan kata-kata Si Upin & Ipin: “Betul-betul betul...!” Tapi sebagaimana yang sudah-sudah, pada akhirnya gagasan yang “betul-betul betul” itu selalu menyimpang di tengah jalan. Susah mencari “gagasan baik” yang berakhir dengan baik saat dilaksanakan. Mulai dari BLT (Bantuan Langsung Tunai), anggaran pendidikan 20 persen, pengalihan minyak tanah ke BBG, sampai bailout dunia perbankan, semua bermasalah saat dipraktekkan. |

|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next > End >>
|