|
Di usianya yang ke-10, ibarat tajuk pohon yang mulai meninggi, PKS pun mulai diterpa angin miring, mulai dari isu melepas khittah hingga pro-Israel. Ada apa sebenarnya? |

|
|
Tak hanya di Indonesia, keberadaan Amdocs juga menjadi perbincangan di negara-negara lain karena kemisteriusan perusahaan tersebut. AMDOCS didirikan tahun 1982 dengan nama Aurec Information and Directory Systems dan berganti nama menjadi Amdocs pada tahun 1995. Tiga tahun kemudian terdaftar di New York Stock Exchange. Awalnya, Amdocs berbasis di Ra’anana, Israel, di mana hingga kini sebagian besar aktivitas riset dan pengembangan berjalan dengan hampir separuh dari total karyawannya. Amdocs kemudian memindahkan pusatnya ke Chesterfield, Missouri, Amerika Serikat. Situs Jobvent.com, situs yang mereview tempat pekerjaan, memberikan gambaran lebih jelas tentang keisraelan perusahaan ini. “Jika kita baca komentar-komentar orang-orang yang pernah bekerja di sana, terlihat jelas bahwa perusahaan ini memang sejatinya sebuah perusahaan Israel,” tulis Jobvent. |

|
|
 Arbi Sanit ADA target besar yang tengah dibidik PKS sehingga berani meninggalkan khittah-nya sebagai partai eksklusif. Namun, di satu sisi, terbaca juga adanya sikap panik yang menghinggapi elite-elite parpol itu sehingga mengambil jalan pintas. Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menduga, pergeseran PKS menjadi partai terbuka hanya strategi politik untuk merebut posisi RI-1 atau RI-2 dengan meminta dukungan Negeri Paman Sam. Sebab, menurutnya, PKS tidak akan pernah bisa mendapuk posisi presiden atau wapres jika tanpa restu Amerika dan masih tetap berideologi Islam yang eksklusif. “Mungkin PKS belajar dari Pemilu 2009, di mana Demokrat tidak bisa menggandeng PKS untuk menjadi wapres mendampingi SBY,” ujar Arbi Sanit kepada Indonesia Monitor, Sabtu (17/7). |

|
|
PKS telah mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka. Adakah nonmuslim yang tertarik? SEORANG simpatisan yang bermukim di Singapura mengaku menyesal telah mendukung PKS, ketika partai ini bermetamorfosa menjai partai terbuka. Kekecewaannya terhadap PKS mengingatkan pada peristiwa meninggalnya ayah kandungnya. “Saya sempat sedih seminggu belakangan ini, perasaan saya seperti kehilangan, mirip waktu almarhum bapak saya wafat. Ya, sedih karena kehilangan wasilah dakwah yang saya cintai dan saya harapkan selama ini,” curhatnya. Selama ini, dia mencurahkan perhatiannya terhadap PKS dengan mengelola blog PKSWatch sejak Oktober 2005. Ia sering menampilkan kritik tajam terhadap sepak terjang partai ini. Namun sejak partai dakwah ini dirasakan tidak sesuai dengan janji pendirian awal, blogger yang menamakan dirinya DOS ini memutuskan keluar dari PKS. Ia menutup blog-nya dengan sebuah artikel berjudul “Selamat Tinggal PKS dan PKS Watch”. |

|
|
“Yang jadi pertanyaan, kenapa Tifatul mengatakan sebelumnya bahwa Amdocs ini Israel, tapi ketika kemudian Dubes Amerika datang dan menjelaskan bahwa itu bukan Israel, lalu Tifatul diam. Ada apa?” PRESIDEN Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Jusuf Rizal mengungkapkan, kebenaran informasi bahwa Amdocs merupakan perusahaan Israel justru awalnya keluar dari Menkominfo Tifatul Sembiring. “Jadi, sebelumnya Tifatul Sembiring sudah memberikan statemen bahwa Amdocs itu milik Israel. Tentu saja, kalau punya Israel, maka tidak boleh ikut dalam tender billing system Telkomsel,” ujar Jusuf Rizal kepada Moh Anshari dari Indonesia Monitor, Sabtu (17/7). Apa hanya karena itu sehingga tidak boleh? Selain karena memang Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, juga menyangkut ketidaksukaan dari mayoritas umat muslim di Indonesia. Ketika Tifatul memberikan stateman itu sebagai seorang menteri tentu saja untuk memberikan statemen sudah diperhitungkan dengan matang dan komprehensif terhadap apa yang dikatakan, termasuk soal tudingan dia tentang kepemilikan Israel itu. |

|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|